Jauh sebelum Al-Qur'an diturunkan, sebagian ahli kitab yang mengetahui tanda-tanda kenabian telah mengenal kabar tentang akan datangnya seorang rasul pada akhir zaman.
Al-Qur'an juga mengabarkan bahwa Nabi Isa alaihissalam pernah menyampaikan kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang setelahnya, yang namanya adalah Ahmad. Siapakah rasul yang telah diberitakan itu?
Di Makkah, hiduplah seorang laki-laki bernama Muhammad ﷺ. Beliau dikenal oleh kaumnya sebagai orang yang jujur dan terpercaya. Hatinya tidak menyukai berbagai kemusyrikan dan keburukan yang terjadi di tengah masyarakat. Beliau kemudian sering menyendiri untuk beribadah dan bertafakkur di Gua Hira, sebuah gua yang berada di Jabal Nur, tidak jauh dari Makkah.
Beliau belum mengetahui bahwa Allah telah memilihnya untuk menjadi penutup para nabi dan rasul.
“Iqra!” — Wahyu Pertama
Ketika beliau berusia sekitar 40 tahun, pada bulan Ramadan, datanglah Malaikat Jibril alaihissalam kepada beliau di dalam Gua Hira. Jibril berkata:
“Iqra!”
“Bacalah!” — QS. Al-'Alaq: 1Nabi Muhammad ﷺ menjawab bahwa beliau tidak dapat membaca. Perintah itu disampaikan kembali, hingga akhirnya turunlah lima ayat pertama dari Surah Al-'Alaq.
“Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan.” — QS. Al-'Alaq: 1
Lima ayat pertama itu menjadi awal dari wahyu Al-Qur'an yang kemudian turun secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama sekitar 23 tahun.
Khadijah Menenangkan Nabi ﷺ
Peristiwa itu begitu dahsyat bagi Nabi ﷺ. Beliau segera pulang menemui istrinya, Khadijah radhiyallahu 'anha, dalam keadaan hati yang terguncang.
“Selimuti aku, selimuti aku,” pinta beliau.
Khadijah pun menyelimuti beliau hingga rasa takut itu mereda. Setelah itu Nabi ﷺ menceritakan apa yang telah terjadi dan mengatakan bahwa beliau mengkhawatirkan dirinya.
Khadijah menenangkan beliau dengan penuh keyakinan. Ia mengingatkan berbagai kebaikan yang selama ini dilakukan oleh Nabi ﷺ: beliau menyambung silaturahmi, membantu orang yang membutuhkan, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang tertimpa kesulitan.
Khadijah kemudian membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal, sepupunya yang telah mempelajari kitab-kitab terdahulu.
Kesaksian Waraqah bin Naufal
Setelah mendengar kisah Nabi ﷺ, Waraqah berkata bahwa yang datang kepada beliau adalah Namus, yaitu pembawa wahyu yang dahulu datang kepada Nabi Musa alaihissalam.
Waraqah bahkan mengatakan bahwa kaum Nabi Muhammad ﷺ kelak akan memusuhinya dan mengusirnya dari negerinya. Ia berharap masih hidup ketika saat itu tiba agar dapat menolong beliau.
Bagi Waraqah, peristiwa di Gua Hira itu merupakan tanda yang sangat jelas: wahyu yang dahulu datang kepada para nabi telah datang kepada seorang rasul yang baru.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Gua Hira, Sebuah Perjalanan Besar Dimulai
Menarik untuk kita renungkan bersama keluarga: wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ dimulai dengan kata “Iqra”.
Kemudian ayat-ayat berikutnya langsung menyebut tentang penciptaan manusia, pena, dan ilmu yang Allah ajarkan kepada manusia. Ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan seorang Muslim.
Ilmu bukan sekadar tambahan dalam kehidupan; ia adalah salah satu jalan yang Allah gunakan untuk membimbing manusia mengenal Rabbnya.
Maka ketika anak kita hari ini belajar mengeja huruf hijaiyah, belajar membaca Al-Qur'an, dan berusaha memahami ayat-ayat Allah, kita sedang mengenalkan kepadanya sebuah perjalanan ilmu yang telah dimulai sejak wahyu pertama turun di Gua Hira.
Dari satu kata — Iqra — terbukalah pintu perjalanan panjang turunnya Al-Qur'an.
Wahyu kemudian turun secara bertahap selama sekitar 23 tahun, hingga sempurnalah agama ini dan lengkaplah Al-Qur'an sebagai kitab petunjuk bagi manusia.
Bagaimana Al-Qur'an kemudian dikumpulkan dan dijaga hingga sampai kepada kita?