Kita bekerja keras, pagi berangkat malam pulang, semua demi masa depan anak. Tapi masa depan seperti apa yang sedang kita siapkan — kalau yang pertama kali mengenalkan Al-Qur'an ke anak kita bukan kita sendiri?
Ini situasi yang dialami banyak keluarga: kedua orang tua bekerja, waktu di rumah terbatas, dan pengajaran Al-Qur'an akhirnya diserahkan sepenuhnya ke TPA atau guru ngaji. Ini bukan salah — bahkan perlu. Tapi tanpa sadar, keterlibatan kita bisa perlahan menghilang: tidak sempat mendengar bacaan anak sendiri, tidak tahu sejauh mana progresnya, dan merasa tugas selesai begitu sudah didaftarkan ke tempat les.
Coba kita bandingkan dua jenis investasi. Rumah, tabungan, kendaraan — semua penting, tapi nilainya berhenti di dunia. Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim). Anak yang shalih adalah investasi yang pahalanya terus mengalir, bahkan setelah kita tiada — sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh harta sebanyak apa pun.
Dalam tradisi keilmuan Islam, Al-Qur'an diajarkan dengan cara talaqqi dan musyafahah — bertemu langsung, bacaan diambil dari mulut ke mulut, guru membimbing sambil membenarkan bacaan murid. Proses ini tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh alat teknologi. Artinya, kehadiran dan keterlibatan langsung tetap menjadi inti dari pengajaran Al-Qur'an — bukan sekadar transfer informasi, tapi hubungan pembimbing dan yang dibimbing. Dan wali/orang tua adalah pembimbing pertama dan utama itu, sebelum siapa pun.
Riset pendidikan modern pun menegaskan hal serupa: keterlibatan orang tua (parental involvement) berpengaruh terhadap motivasi dan proses belajar anak, bukan sekadar penyediaan fasilitas atau guru terbaik.
Kabar baiknya, ini bukan berarti kita harus mengajar sendiri secara penuh menggantikan guru ngaji — itu tidak realistis, dan memang perlu bantuan pihak lain. Yang diperlukan hanya porsi kecil yang konsisten: mendengar bacaan anak seminggu sekali, menanyakan apa yang baru dipelajari, atau duduk sepuluh menit bersama sebelum tidur.
Di sinilah teknologi bisa membantu — bukan menggantikan peran kita, tapi mempermudah kita tetap terlibat meski waktu terbatas: laporan progres yang bisa dipantau kapan saja, materi yang dirancang singkat sehingga kita bisa ikut mendampingi tanpa perlu waktu lama.
Rezeki bisa dicari lagi esok hari. Tapi momen menuntun anak mengenal Al-Qur'an hari ini, tidak akan pernah terulang persis sama.