“Al-Qur'an itu sakral. Masa iya diajarkan lewat gadget?”
Pertanyaan ini wajar.
Bahkan, kekhawatiran semacam ini bisa lahir dari rasa hormat yang besar kepada Al-Qur'an. Karena itu, ia tidak perlu dijawab dengan mengatakan bahwa orang tua terlalu khawatir atau ketinggalan zaman.
Justru sebaliknya, pertanyaan ini perlu kita jawab dengan tenang:
Apa sebenarnya yang berubah ketika Al-Qur'an dikenalkan melalui teknologi — substansinya, atau hanya medianya?
Ada beberapa kekhawatiran yang biasanya muncul.
Pertama, apakah penggunaan layar membuat anak kehilangan adab terhadap Al-Qur'an?
Kedua, apakah anak bisa belajar dari sumber yang tidak jelas, tanpa bimbingan guru dan tanpa jalur keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan?
Ketiga, bukankah gadget selama ini lebih dekat dengan hiburan daripada ibadah? Jangan-jangan kita justru membuka pintu yang selama ini berusaha kita batasi.
Semua kekhawatiran itu masuk akal. Dan justru karena itulah kita perlu membedakan antara Al-Qur'an sebagai wahyu dan media yang digunakan untuk mengenalkan dan mempelajarinya.
Al-Qur'an Tidak Berubah Hanya Karena Medianya Berubah
Dalam kaidah fikih dikenal prinsip:
al-wasa'il laha ahkamul maqashid — sarana mengikuti hukum tujuannya.
Aplikasi adalah sarana. Seperti buku, papan tulis, rekaman suara, atau alat bantu lainnya, aplikasi hanya menjadi media yang digunakan untuk menyampaikan pembelajaran.
Yang tidak boleh berubah adalah substansinya: bacaan Al-Qur'an, huruf-hurufnya, kaidah bacaannya, dan ilmu yang menjadi dasar pengajarannya.
Sedangkan cara seseorang mengenalkan huruf kepada anak dapat berkembang mengikuti zaman, selama perkembangan tersebut tidak mengubah apa yang diajarkan.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan: “Apakah belajar Al-Qur'an lewat gadget boleh?”
Tetapi:
“Apa yang diajarkan melalui gadget itu, bagaimana cara mengajarkannya, dan ke mana pembelajaran tersebut diarahkan?”
Dari Lisan, Mushaf, Hingga Media Digital
Kalau kita melihat sejarah, sarana manusia dalam mempelajari dan menyebarkan ilmu memang terus berkembang.
Pada masa awal Islam, pengajaran Al-Qur'an sangat kuat melalui hafalan, talaqqi, dan pertemuan langsung antara guru dan murid.
Kemudian penulisan mushaf berkembang dan menjadi bagian penting dalam penjagaan Al-Qur'an. Pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, dilakukan standardisasi mushaf untuk menjaga kesatuan penulisan mushaf umat Islam di tengah perbedaan dialek dan cara baca yang muncul.
Berabad-abad kemudian, teknologi percetakan berkembang. Mushaf yang sebelumnya ditulis dengan tangan mulai dapat diperbanyak dengan mesin.
Teknologi Boleh Membantu, Tetapi Tidak Boleh Mengambil Alih
Ada satu hal yang perlu kita jaga bersama. Jangan sampai karena sebuah aplikasi mampu menampilkan huruf dengan menarik, memutar audio, memberikan latihan, atau mencatat progres, kita kemudian menganggap anak sudah tidak membutuhkan guru.
Pembelajaran Al-Qur'an memiliki dimensi yang tidak cukup hanya disampaikan melalui layar.
Ada talaqqi. Ada musyafahah. Ada koreksi bacaan. Ada adab. Ada keteladanan. Dan ada hubungan antara guru dan murid yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sebuah aplikasi.
Karena itu, aplikasi sebaiknya ditempatkan pada posisi yang proporsional:
sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti guru.
Anak mungkin dapat mengenal huruf melalui aplikasi. Ia mungkin dapat mendengarkan contoh bacaan berulang kali. Ia mungkin dapat berlatih secara mandiri.
Tetapi ketika sampai pada pembelajaran yang membutuhkan koreksi dan bimbingan langsung, peran guru tetap penting.
Tiga Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
Karena itu, ketika memilih aplikasi pembelajaran Al-Qur'an untuk anak, jangan hanya melihat apakah tampilannya menarik.
Perhatikan setidaknya tiga hal:
- Sumber dan materi. Apakah materi yang digunakan jelas sumbernya? Apakah huruf, bacaan, dan contoh yang diberikan diperiksa dengan baik?
- Posisi guru dan orang tua. Apakah aplikasi membantu orang tua tetap terlibat dan mendorong anak mendapatkan bimbingan guru? Ataukah justru memberi kesan bahwa anak sudah tidak membutuhkan siapa pun?
- Tujuan penggunaannya. Apakah anak menggunakan aplikasi untuk belajar secara terarah, atau justru dibuat terus berada di depan layar tanpa batas yang jelas?
Tiga pertanyaan sederhana ini jauh lebih penting daripada sekadar bertanya: “Aplikasinya bagus atau tidak?” Karena aplikasi yang bagus secara teknologi belum tentu tepat untuk setiap kebutuhan pendidikan anak.
Jangan Anti-Teknologi, Jangan Pula Menyerahkan Anak kepada Teknologi
Mungkin inilah sikap yang paling seimbang.
Kita tidak perlu memusuhi teknologi hanya karena ia berbentuk layar.
Tetapi kita juga tidak boleh menyerahkan pendidikan anak kepada teknologi hanya karena teknologi menawarkan kemudahan.
Orang tua tetap orang tua. Guru tetap guru. Dan aplikasi tetap aplikasi. Masing-masing memiliki tempatnya.
Teknologi dapat membantu mengulang pelajaran ketika guru tidak sedang bersama anak. Orang tua dapat memberikan kehangatan dan keteladanan yang tidak dimiliki sebuah aplikasi. Guru dapat membimbing, mengoreksi, dan memastikan anak belajar dengan cara yang benar.
Ketiganya dapat saling melengkapi.
Pada akhirnya, yang kita cari bukanlah teknologi yang paling canggih.
Yang kita cari adalah cara yang paling tepat untuk membantu anak mengenal Al-Qur'an dengan benar, mencintainya, dan terus bertumbuh bersama orang tua serta gurunya.
Wadahnya boleh berubah mengikuti zaman.
Tetapi Al-Qur'an yang kita jaga, pelajari, dan muliakan tidak berubah.
