
“Saya bukan lulusan pesantren. Tajwid saya sendiri masih belajar. Apa saya pantas mengajarkan Al-Qur'an kepada anak saya sendiri?”
Kalau pertanyaan ini pernah terlintas di hati kita, itu justru pertanda baik. Rasa ragu itu muncul karena kita peduli. Kita ingin memberikan yang terbaik, bukan sekadar asal mengajarkan.
Dan ternyata, untuk menjadi bagian penting dalam perjalanan anak mengenal Al-Qur'an, seorang ibu tidak harus terlebih dahulu menjadi ahli tajwid.
Banyak ibu, dengan niat yang baik, akhirnya menyerahkan sepenuhnya pengajaran Al-Qur'an anak kepada TPA atau guru ngaji dengan alasan, “Biar diajarkan oleh yang lebih ahli.” Ini bukan sesuatu yang salah. Bahkan, belajar kepada guru yang memiliki kemampuan adalah bagian penting dalam pendidikan Al-Qur'an.
Namun tanpa disadari, ada satu peran yang ikut terlepas: peran sebagai orang pertama yang menghadirkan kehangatan Al-Qur'an dalam kehidupan anak.
Peran itu sebenarnya tidak menuntut gelar keilmuan yang tinggi.
Belajar Bersama, Bukan Menggantikan Guru
Lihatlah kisah ibunda Imam Syafi'i. Setelah ayah beliau wafat ketika Imam Syafi'i masih kecil, sang ibu membesarkan dan mengarahkan pendidikan putranya dalam keadaan yang sederhana.
Imam Syafi'i kemudian dikenal telah menghafal Al-Qur'an pada usia tujuh tahun dan tumbuh menjadi salah seorang imam besar dalam sejarah keilmuan Islam.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa pendidikan seorang anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau di hadapan seorang guru. Ada sosok yang hadir jauh lebih awal: ibu yang mendampingi, mendoakan, membangun kebiasaan, dan menjaga arah pendidikan anaknya.
Tentu, peran seorang ibu sebagai guru pertama tidak sama dengan peran guru Al-Qur'an yang ahli dalam tajwid dan makharijul huruf.
Guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mengoreksi bacaan secara teknis. Karena itu, anak tetap membutuhkan guru yang kompeten.
Tetapi ibu memiliki peran yang berbeda — dan tidak kalah penting.
Ibu menumbuhkan kedekatan anak dengan Al-Qur'an.
Ibu bisa mendengarkan ketika anak membaca, meskipun belum mampu mengoreksi semua kesalahannya. Ibu bisa bertanya apa yang sedang dipelajari. Ibu bisa menemani beberapa menit setiap hari. Dan yang paling sederhana, ibu bisa memperlihatkan kepada anak bahwa Al-Qur'an memang bagian dari kehidupan sehari-hari.
Anak melihat ibunya membaca Al-Qur'an, bukan hanya mendengar perintah untuk membacanya.
Di situlah keteladanan bekerja.
Tidak Harus Menunggu Menjadi Ahli
Kadang kita menunggu terlalu lama.
“Nanti kalau tajwid saya sudah benar.”
“Nanti kalau saya sudah bisa mengajarinya dengan baik.”
“Nanti kalau saya punya lebih banyak waktu.”
Padahal, anak tidak selalu membutuhkan seorang ibu yang sempurna. Ia membutuhkan seorang ibu yang hadir.
Tidak perlu menggantikan guru. Tidak perlu mengoreksi setiap makhraj. Tidak perlu menguasai seluruh hukum tajwid sebelum mulai mendampingi.
Kita bisa belajar bersama anak.
Ketika ada bacaan yang kita sendiri belum yakin, kita bisa mengatakan, “Mari kita tanyakan kepada ustadz.” Dengan begitu, anak justru belajar bahwa mencari ilmu adalah proses yang terus berlangsung — bahkan bagi orang tuanya.
Penelitian pendidikan juga menunjukkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam membangun kebiasaan literasi anak. Aktivitas membaca bersama, lingkungan belajar di rumah, dan keterlibatan orang tua dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan dan kebiasaan belajar anak.
Prinsip ini dapat kita terapkan dalam pendidikan Al-Qur'an: guru memberikan bimbingan keilmuan, sementara orang tua menjaga agar hubungan anak dengan ilmu tetap hidup di rumah.
Keduanya bukan pesaing.
Keduanya saling melengkapi.
Lima Langkah Sederhana untuk Mulai
Kita tidak harus mengubah seluruh rutinitas keluarga. Mulailah dari sesuatu yang kecil dan bisa dilakukan secara konsisten.
- Dengarkan anak mengaji setiap hari. Tidak perlu lama. Beberapa ayat pun cukup. Duduklah di sampingnya dan dengarkan. Jika menemukan bacaan yang belum kita pahami, jangan ragu menyerahkan koreksinya kepada guru. Yang penting, anak merasakan bahwa ibu peduli dengan apa yang sedang ia pelajari.
- Bacakan Al-Qur'an atau putar murattal bersama. Bisa dilakukan sebelum tidur atau pada waktu tenang lainnya. Jadikan Al-Qur'an bagian dari suasana rumah, bukan hanya sesuatu yang muncul ketika waktunya “belajar”. Kebiasaan kecil yang berulang sering kali lebih membekas daripada satu sesi panjang yang jarang dilakukan.
- Perlihatkan diri sedang membaca Al-Qur'an. Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang ia lihat. Ketika anak melihat ibunya membuka mushaf, membaca, dan meluangkan waktu untuk Al-Qur'an, ia mendapatkan pesan yang jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat: “Al-Qur'an memang penting dalam kehidupan kami.”
- Serahkan koreksi teknis kepada guru. Jangan merasa harus menguasai semuanya sendiri. Guru atau ustadz/ustadzah tetap memiliki peran penting dalam membimbing tajwid, makhraj, dan ketepatan bacaan. Ibu cukup mengikuti perkembangannya: apa yang sedang dipelajari, bagian mana yang perlu dilatih, dan apa kemajuan yang sudah dicapai. Kemudian rayakan kemajuan kecil itu bersama anak.
- Gunakan teknologi sebagai pendamping. Aplikasi atau media digital dapat membantu mengenalkan huruf hijaiyah, memberikan latihan, atau menyediakan audio yang dapat diulang. Tetapi teknologi tetap ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti ibu dan bukan pengganti guru. Dengan bantuan media yang tepat, seorang ibu yang belum menguasai tajwid secara mendalam pun tetap dapat terlibat dalam proses belajar anak.
Ibu Tidak Harus Menjadi Guru Tajwid untuk Menjadi Guru Pertama
Menjadi guru pertama bagi anak bukan berarti ibu harus menggantikan ustadz atau ustadzah.
Bukan pula berarti ibu harus menjadi ahli sebelum berani membuka Al-Qur'an bersama anak.
Guru mengajarkan ilmu.
Ibu menumbuhkan kecintaan.
Keduanya berjalan bersama.
Mungkin bacaan kita belum sempurna.
Mungkin kita masih terus belajar.
Mungkin waktu kita juga terbatas.
Tetapi ketika seorang anak melihat ibunya duduk di sampingnya, mendengarkan bacaannya, membuka mushaf bersamanya, dan terus mendorongnya untuk belajar, ia sedang mendapatkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh aplikasi mana pun: kehadiran.
Dan sering kali, itulah awal dari tumbuhnya kecintaan seorang anak kepada Al-Qur'an.
Jangan menunggu menjadi ibu yang sempurna untuk mulai mendampingi.
Mulailah dengan hadir.
