Kita semua ingin anak cepat bisa mengaji. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya — adab apa yang sedang mereka pelajari sepanjang proses itu?
Adab yang dimaksud bukan sekadar sopan santun saat duduk di majelis ilmu. Ia mencakup seluruh cara anak menjalani harinya: adab saat ibadah (khusyuk, tuma'ninah, menghargai waktu shalat), adab bergaul (jujur, rendah hati, menghormati yang lebih tua), hingga adab pada diri sendiri (sabar, tidak tergesa-gesa, mau mengulang tanpa mengeluh). Semua ini fondasi yang sama. Anak yang terbiasa beradab dalam keseharian akan lebih mudah menyerap ilmu apa pun — termasuk mengaji.
Zaman ini serba cepat. Video anak kecil sudah hafal juz 30 gampang viral, dan tanpa sadar kita ikut terburu-buru. Bukan salah siapa pun — ini memang tantangan zaman yang perlu kita sadari bersama.
Padahal, para ulama salaf sudah lama mengingatkan urutan ini. Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, "Aku belajar adab tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu dua puluh tahun." Tiga puluh tahun untuk adab, dua puluh tahun untuk ilmu — bukan kebalikannya. Dan adab yang mereka maksud memang luas, mencakup adab kepada Allah, kepada orang tua, kerabat, guru, teman, dan manusia secara umum — di rumah, di sekolah, di jalan, di setiap tempat.
Sains pendidikan modern pun mengonfirmasi ini dari sisi lain: kemampuan anak menahan diri dan fokus (self-regulation) justru prediktor lebih kuat untuk keberhasilan belajar jangka panjang, dibanding sekadar kecepatan menghafal.
Kabar baiknya, ini bisa mulai dari langkah kecil di rumah — tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Prinsip inilah yang kami pegang dalam merancang materi EduSmart Muslim: sesi belajar yang singkat, kriteria kelulusan berdasarkan kelancaran anak, bukan kejar target waktu. Bukan untuk mempercepat proses, tapi untuk mendukungnya tumbuh sewajarnya.
Mungkin pertanyaannya bukan "sudah sampai huruf apa", tapi "sudah sejauh apa adabnya hari ini". Dan itu, insyaAllah, bisa kita mulai pelan-pelan bersama.